Langsung ke konten utama

Review Novel Bukan Cinderella: Kadang Cinta Tak Bisa Memilih

Masih inget terakhir baca bukunya Mbak Ifa Avianty yaitu dwilogi Facebook on Love yang berhasil mengaduk-aduk  emosi saya pada saat membacanya. Chapter pertama maupun yang kedua dari buku tersebut sama-sama menghadirkan sekelumit drama rumah tangga dengan segala bumbu-bumbunya. Ditambah dengan gaya penuturan mba Ifa yang berhasil membuat saya jatuh cinta pada tulisannya yang pertama (pertama kali baca tulisan mba Ifa di kumcernya yang berjudul Musim Semi Enggak Lewat Depok).
 
Nah, kali ini ceritanya saya mau me-review novel Mba Ifa yang judulnya Bukan Cinderella. Novel setebal 215 halaman ini terbitan Noura Books, kalau gak salah dulu namanya penerbit Mizan Media Utama kemudian berganti nama menjadi Noura Books.

Buku ini  memberikan catatan rekor bagi pembaca yang agak malas seperti saya, bisa menghatamkan novel ini dalam jangka waktu 3 jam saja.. saking serunya atau emang gak ada kerjaan lain, eh XD (tapi asli novelnya seru :D).
**
Bukan Cinderela

Apa yang ada di dalam pikiran kita ketika mendengar nama Cinderella? Seorang gadis miskin yang tinggal bersama ibu dan saudara tirinya. Dia diperlakukan layaknya pembantu, hingga—singkat cerita ia dipersunting oleh seorang pangeran dari sebuah kerajaan kemudaian kisahnya diakhiri dengan kalimat, “Cinderella dan Sang Pangeran akhirnya menikah dan hidup bahagia selama-lamanya.”

Tapi judul buku ini Bukan Cinderella! Tentu karena Laili, tokoh utama dalam novel ini, tidak tinggal bersama ibu dan saudara tiri yang jahat. Dia adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama adik laki-lakinya, Yusuf. Untuk menopang kehidupannya bersama Yusuf, Laili berjualan makanan yang ia buat sendiri. Keahlian memasak yang diturunkan dari almarhum ibunya yang meninggal karena kangker rahim tersebut sangat membantu kelangsungan hidup mereka berdua. Tekad Laili menyekolahkan Yusuf hingga ke perguruan tinggi. Sementara dirinya mencukupkan diri dengan bekerja sambil lanjut kuliah semampunya di jurusan sastra Inggris.

Laili tinggal di rumah sederhana warisan orang tuanya. Dia memiliki tetangga kaya raya tepat di sebelah rumahnya. Anak tetangga yang kaya raya tersebut bernama Andra yang sebaya dengan Yusuf, mereka berdua bersahabat. Sedangkan ibunya Andra, sesekali memesan masakan atau kue buatan Laili. Meski kaya raya dan keturunan ningrat, keluarga Andra sungguh baik hati terlebih kepada Laili dan adiknya.

Dilamar Pangeran

Andra tumbuh menjadi laki-laki yang tampan, namun cenderung pendiam dan serius. Usianya terpaut lima tahun dengan Laili. Namun hal tersebut tak membuat Andra mengurungkan niat ketika memutuskan untuk melamar Laili, kakak dari sahabatnya, Yusuf.

Pada saat itu Andra menjelang lulus kuliah ketika keluarganya mendesaknya untuk menikah. Dia yang merupakan cucu tertua dari keluarga eyangnya, memiliki kendali untuk melanjutkan kemudi bisnis keluarganya, dengan syarat sudah menikah. Kemudian dari pihak keluarga, terutama ibunya, mengajukan nama Laili sebagai calon istrinya.
“Terus terang... saya tidak punya peraasaan apa-apa terhadap Mbak Laili. saya hanya ingin membahagiakan kedua orang tua saya. Apa saya salah?”
Lalu bagaimana dengan perasaanku? Sekarang saja aku sudah nyaris mati, mendengarkan gaya bicaranya yang dingin dan kaku, bahkan agak terkesan ketus. (Hal: 22)

Rumah Tangga Aneh

Andra menikahi Laili tanpa rasa cinta. Namun tidak begitu dengan Laili, diam-diam dia menaruh hati kepada suaminya tersebut. Meskipun begitu, Andra sedang berusaha untuk mencintai Laili. Tiga bulan pernikahan mereka terkesan begitu aneh, terlebih Andra dan Yusuf membuat satu perjanjian. Yusuf tidak mengijinkan kakaknya disentuh oleh suaminya sendiri, jika Andra belum berhasil mencintai kakaknya tersebut. Perjanjian yang aneh. Bahkan sepasang suami istri itu tidur di kamar yang berbeda. Sungguh pernikahan yang aneh.

Dalam pernikahan mereka, hadir Pepey yang merupakan cinta pertama Andra. Pepey masih sepupuan dengan Andra, hal tersebut yang membuat orangtua Andra bersikeras menjauhkan keduanya. Hadirnya kembali Pepey di kehidupan Andra membuat gejolak hebat di hati Laili dan rumah tangga mereka.

Ketika menyadari konfik utama di novel ini, saya jadi teringat tentang kalimat yang saya tuliskan di tatus FB saya, tentang kata ‘angkuh’, bahwa menjadi angkuh adalah bagian dari menjaga diri. Nah, ini juga yang terjadi di antara Andra dan Laili. Mereka berdua angkuh untuk mengungkapkan perasaannya masing-masing. Padahal mereka berdua sudah jelas-jelas resmi sebagai pasangan suami-istri (enggak kayak saya yang jomBlo, Eh :P)

Yang menarik dari novel ini, sekaligus menjadi ciri khas tulisannya mba Ifa Afianty adalah dari sudut pandang yang diambil. Novel ini ditulis dari sudut pandang yang berbeda-beda. Kadang sudut pandang Laili, kadang Andra, Pepey, dan Ibu Andra.

Kehadiran tokoh Pepey menjadikan novel ini berasa sinetron banget. Tapi, tetap saja saya suka dengan jalan cerita dan endingnya. Banyak pelajaran rumah tangga yang bisa dijadikan bekal bagi yag sudah menikah maupun yang akan (segera) menikah :D

Satu lagi ciri khas dari novel mba Ifa Afianti yang tak luput dari perhatian saya. Mba Ifa sering ‘menyulap’ tokoh utama laki-laki di ceritanya sebagai sosok yang dingin, cool, dan pas jika dijuluki sebagai “Prince Charming”. Ehm...

Cover Buku Bukan Cinderella
Judul Buku: Bukan Sinderella, Kadang Cinta Tak Bisa Memilih
Penulis: Ifa Avianty
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit: Februari 2015, Cetakan Pertama
Jumlah Halaman:215 hal
ISBN: 978-602-1606-87-2

**
September 2015

Komentar

  1. Bagus, teh...menarik ulasannya, saya mo belajar ah...nulis ulasan kok rasanya susah buat saya...kumaha atuh nya....yg jomblo biar cepet dapet jodoh...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo semangat Teh Eka. Pasti bisa kok, gak susah :)
      baca, lalu tuliskan! beri tau dunia tentang isi 'dunia'!
      'dunia' = buku
      ^_^

      Hapus
    2. aamiin :ng #ketinggalan aminnya. hohoho =D

      Hapus
  2. Haii, aku suka banget sama reviewnya, dan aku udah baca buku ini :). Sedikit koreksi, kangker itu tulisannya kanker ^_^. Thank you :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hohoho.. Iya terima kasih atas koreksinya ya mba.. šŸ˜šŸ˜„

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepuluh Muwasofat Tarbiyah

Bismillah... Ahad siang di suatu halaqah, murrabiah saya menyinggung tentang Muwasofat Tarbiyah . Saya sendiri gagal mengingat  apa yang dimaksud oleh murrabiah saya tersebut, padahal di tempat liqo sebelumnya saya pernah menerima materi itu. Duh, dengan menyadari betapa longgarnya ilmu yang mampu saya ikat, semoga duduk melingkar setiap pekan ini  bukan menjadi hal yang tak ada gunanya bagi saya. Jadi teringat kalimat salah satu sahabat Nabi Salallahu ‘alaihi wasalam, Ali bin Abi Thalib. “Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya!” begitu ujarnya. Baiklah, kali ini saya coba berikhtiar dalam belajar. Maka, saya tuliskan materi yang diberikan oleh murrabiah tentang 10 Muwasofat Tarbiyah . Menurut sumber yang saya baca, Muwasofat berasal dari kata wa-sho-fa yang artinya watak atau rupa diri. Sedangkan Tarbiyah secara umum berarti pendidikan. Sedangkan menurut Dr. Ali Abdul Halim Mahmud dalam bukunya yang berjudul Peringkat-Peringkat Tarbiyah Ihwanul Muslimin, menga...

Sekolah di Dalam Hutan

Pencarian Sekolah di Dalam Hutan Siang itu, seusai menggelar aksi penggalangan dana untuk pembangunan masjid Tolikara, Papua, saya dan seorang sahabat meluncur ke tempat tujuan kami selanjutnya. Kami akan mencari ‘sekolah di dalam hutan’. Sebuah pencarian yang sempat gagal pada  perjalanan saya sebelumnya dengan dua orang sahabat yang lain. Saat itu kami tengah mencari lokasi untuk event kegiatan sosial di bidang pendidikan. Namun karena medannya sulit dan kondisi kami pada saat itu cukup kelelahan, maka kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan, dan ‘sekolah di dalam hutan’ hanya menjadi sebuah cerita dari mulut ke mulut yang tak mampu kami buktikan benar keberadaanya. Sahabat saya, Teh Ika, selalu antusias ketika menyimak cerita perjalanan kami pada saat itu. Hingga saya dan dia merencanakan sesuatu, bertekad untuk mencari sampai ketemu ‘sekolah di dalam hutan’, sebuah sekolah marginal, yang katanya, akses masuk ke desa tempat sekolah tersebut berada  har...