Ruang Tersunyi Oleh M Irfan Hidayatullah Hayat dan Mamat kembali ke perpustakaan, ruang tersunyi itu. Lumayan masih ada sekitar lima belas menit lagi sebelum masuk kelas, pikir mereka. “Menurutku buku itu terlalu rame,” Mamat mengawali pembicaraan di bangku baca di sudut perpustakaan sekolah yang dikunjungi oleh hanya lima siswa plus penjaga perpus yang terkantuk-kantuk. “Buku mana maksudmu?” tanggap Hayat. “Itu, Druken Monster-nya Pidi Baiq. Kan, tadi kamu ngajak mendiskusikannya?” “Oh, iya… lupa aku… mmmh… aku sepakat. Buku itu bahasanya memang rame. Kita seperti disuguhi sebuah gagasan yang loncat-loncat, tapi mengasyikan. Lucu dan banyak pikiran yang tidak umum. Tapi serame apa pun buku, ia tetap sebuah ruang paling sunyi.” “Nanti dulu…apa katamu tadi?”
Menulis; berbagi ide dan cerita dari rumah