Tepat peringatan satu tahun aku mengajar, ingatanku kembali pada memori masa kecil dalam potret buramnya. Saat itu aku masih kelas empat SD ketika mama memaksa diri memasukkanku ke sekolah agama, sekolah kedua bagiku pada waktu itu. Pagi bersekolah di SD negeri, kemudian sorenya pergi sekolah lagi ke madrasah. Namanya MI Muhammadiyah yang jaraknya sekitar satu kilo meter dari rumah. Mama selalu mempunyai alasan terbaik untuk pendidikan anak-anaknya, meski beliau harus rela membanting tulang, menyisihkan upah kuli cucinya yang kadang--untuk makan kami sehari-hari saja masih kurang. Sementara upah kuli serabutan bapak pada waktu itu barangkali hanya mampu membiayai SPP dua orang kakakku saja.
Menulis; berbagi ide dan cerita dari rumah