Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label sekolah alam

Belajar Syukur Dari Seorang Anak

Bismillahirrahmaanirrohiim. Kali ini saya mau sedikit berbagi cerita tentang salah satu anak yang membuat saya mengerti tentang arti syukur. Bagi beberapa orang yang dekat dengan saya, barangkali sudah mendengar cerita ini langsung dari mulut saya, bahkan cerita ini berulang-ulang saya ceritakan, seakan tak pernah bosan. Suatu hari, kelas kami mendapatkan rezeki. Masing-masing dari kami mendapatkan satu box berisi nasi uduk dan sepotong ayam goreng. Ada salah satu anak didik saya di kelas tiga yang tengah syukuran karena kholas menghafal juz 30. Jadilah pagi itu, usai murodjaah di kelas, kami sarapan bersama dengan nasi box tersebut. Ketika membuka nasi milik saya, seorang anak kelas satu tiba-tiba nongol di samping saung kelas kami. Dengan sapaan dan senyumnya yang khas. “Bu Linaaa,” sapanya sambil membetulkan letak kacamata. “Hei, Assalamu’alaikum. Sudah sarapan belum?” kata saya sambil tersenyum. “Waalaikumsalam. Udaaah, bu,” jawabnya. “Mau nyicip ...

Sepenggal Cerita di Sekolah Alam #2

Apa yang lebih istimewa dari bermalam di sekolah selain bisa menikmati sepoi pohon bambu lebih lama? Ah, tentu lebih banyak hal menarik yang bisa dijumpai di sini. Kaki-kaki yang masih lengkap dengan kaos kakinya yang selonjoran di teras dapur, obrolan ringan dengan ustadzah-ustadzah pengabdian sebagai acara lepas kangen karena absen ‘mondok’ di sekolah sekian bulan, atau sekedar melempar wacana memasak apa kita besok pagi untuk sarapan? Menu istimewa kita yang biasa kah? (nasi goreng akhwat, ricycle nasi catering kemarin dengan cabe rawit yang dipetik di kebun belakang dan telur yang diselundupkan dari kulkas), atau nasi uduk dengan porsi ekstra dari warungnya mak Encing atau pilihan lain di warung uduk dekat rumahnya bu Ijah.

Tarian Pohon Bambu

Belakangan ini saya suka sekali memerhatikan derai tari serimbunan pohon bambu yang tumbuh banyak di halaman sekolah. Jenis tumbuhan yang memiliki bentuk tulang daun memanjang itu kian lihai melambai dari kejauhan, tertepa angin kemudian meniupkan sepoi. Saya akan betah lama-lama duduk di depan kelas atau di pojokan kantor demi memandangi mereka, sesekali mengabadikannya lewat tangkapan kamera handphone milik saya.