Langsung ke konten utama

3 Tips Jitu dapat Jaminan Kualitas saat Berbelanja HP secara Online


Beberapa pekan lalu suami habis beli handphone baru. Judulnya sih kepepet, karena hp satu-satunya yang digunakan untuk berkomunikasi bagi pasangan Long Distance Marriage (LDM) seperti kami ini rusak. Duh, mana tahan sehari saja tidak mendengar suara satu sama lainnya. 

Tapi karena belanja HP baru ini tidak ada di anggaran belanja bulan ini, mau tidak mau harus memangkas anggaran yang lain. Pilihan HP-nya pun cukup yang konvensional, asalkan bisa telepon dan sms. Mulailah suami saya berselancar di dunia maya dan memutuskan membeli HP di salah satu marketplace yang cukup terkemuka.

Selang beberapa hari HP pesanan suami datang. Setelah dicek semuanya terlihat OK dan baterainya pun masih penuh. Namun ketika hendak dicharger, ternyata kok tidak mengisi. Apa mungkin chargernya rusak? Namun setelah dicoba menggunakan charger lain hasilnya tetap tidak mengisi. Setelah baterainya benar-benar habis, HP itu mati total dan tidak bisa digunakan lagi.

Setelah dicari tahu lebih jauh, sepertinya memang tidak original. Pantas saja, pas saya pegang kok rasanya lebih ringan bila dibandingkan dengan HP sejenis. Padahal biasanya HP dengan merek tersebut bisa dibilang memiliki mesin yang bandel.

Kalau sudah begini, muncul rasa menyesal belanja HP secara online. Tapi ketika dipikir-pikir lagi, hal ini bisa kejadian karena emang kurang hati-hati dalam memilih seller saat membeli HP.

Dari pengalaman saya dan suami, barangkali beberapa tips berikut ini bisa dicoba saat memutuskan untuk membeli HP secara online:

1. Pastikan jika berbelanja di marketplace, cek terlebih dahulu performa seller yang menjual barang yang akan kita beli. Lihat berapa bintang yang diberi oleh pembeli sebelumnya beserta testimoninya dan memberikan jaminan atau garansi.

2. Jangan tergiur dengan harga yang lebih murah. Malahan kita wajib curiga jika ada seller yang berani mematok harga jauh di bawah harga pasaran. Bisa jadi produknya tidak original alias KW.

3. Cari marketplace yang bekerjasama dengan brand HP secara langsung. Misalkan saja yang juga kebetulan sedang ada promo saat ini adalah produk Samsung di blibli.com yang mengusung tema Samsung Back to School. Biasanya dengan adanya promo tersebut, kita juga bisa mendapatkan potongan harga dengan memasukkan kode voucher tertentu dengan membeli produk di Samsung officialnya langsung.


Saya sudah coba searching di web blibli.com dan mencari seller yang jual Samsung J7 duo, emang lagi ngincer tipe itu. Teman-teman juga bisa cek langsung di link berikut https://www.blibli.com/jual/samsung-j7-duo. Kemudian akan keluar beberapa pilihan seller dengan harga yang cukup bersaing, salah satunya adalah dari Samsung officialnya, jadi pasti lebih aman dan mutunya terjamin.

Sekarang kekhawatiran untuk membeli HP secara online sirna sudah, asalkan memang mempraktekkan 3 tips di atas. Atau mungkin teman-teman ada tips tambahan yang lain? Jangan segan berbagi di kolom komentar, ya.


Komentar

  1. suami aku nih suka beli hape via online, alhamdulillah udah tiga kali beli aman saja

    BalasHapus
  2. iya kalau beli hp online harus hati2 alhmadulilah suami udah 3x beli di blibli ga ada masalah bahkan aku beli TV juga di bli2 >> orangnya mager keluar n macet2an jadi milih online saja aku mah mba :p

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Bukan Cinderella: Kadang Cinta Tak Bisa Memilih

Masih inget terakhir baca bukunya Mbak Ifa Avianty yaitu dwilogi Facebook on Love yang berhasil mengaduk-aduk  emosi saya pada saat membacanya. Chapter pertama maupun yang kedua dari buku tersebut sama-sama menghadirkan sekelumit drama rumah tangga dengan segala bumbu-bumbunya. Ditambah dengan gaya penuturan mba Ifa yang berhasil membuat saya jatuh cinta pada tulisannya yang pertama (pertama kali baca tulisan mba Ifa di kumcernya yang berjudul Musim Semi Enggak Lewat Depok).   Nah, kali ini ceritanya saya mau me- review novel Mba Ifa yang judulnya Bukan Cinderella . Novel setebal 215 halaman ini terbitan Noura Books, kalau gak salah dulu namanya penerbit Mizan Media Utama kemudian berganti nama menjadi Noura Books. Buku ini  memberikan catatan rekor bagi pembaca yang agak malas seperti saya, bisa menghatamkan novel ini dalam jangka waktu 3 jam saja.. saking serunya atau emang gak ada kerjaan lain, eh XD (tapi asli novelnya seru :D). ** Bukan Cinderela Apa ...

Sepuluh Muwasofat Tarbiyah

Bismillah... Ahad siang di suatu halaqah, murrabiah saya menyinggung tentang Muwasofat Tarbiyah . Saya sendiri gagal mengingat  apa yang dimaksud oleh murrabiah saya tersebut, padahal di tempat liqo sebelumnya saya pernah menerima materi itu. Duh, dengan menyadari betapa longgarnya ilmu yang mampu saya ikat, semoga duduk melingkar setiap pekan ini  bukan menjadi hal yang tak ada gunanya bagi saya. Jadi teringat kalimat salah satu sahabat Nabi Salallahu ‘alaihi wasalam, Ali bin Abi Thalib. “Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya!” begitu ujarnya. Baiklah, kali ini saya coba berikhtiar dalam belajar. Maka, saya tuliskan materi yang diberikan oleh murrabiah tentang 10 Muwasofat Tarbiyah . Menurut sumber yang saya baca, Muwasofat berasal dari kata wa-sho-fa yang artinya watak atau rupa diri. Sedangkan Tarbiyah secara umum berarti pendidikan. Sedangkan menurut Dr. Ali Abdul Halim Mahmud dalam bukunya yang berjudul Peringkat-Peringkat Tarbiyah Ihwanul Muslimin, menga...

Sekolah di Dalam Hutan

Pencarian Sekolah di Dalam Hutan Siang itu, seusai menggelar aksi penggalangan dana untuk pembangunan masjid Tolikara, Papua, saya dan seorang sahabat meluncur ke tempat tujuan kami selanjutnya. Kami akan mencari ‘sekolah di dalam hutan’. Sebuah pencarian yang sempat gagal pada  perjalanan saya sebelumnya dengan dua orang sahabat yang lain. Saat itu kami tengah mencari lokasi untuk event kegiatan sosial di bidang pendidikan. Namun karena medannya sulit dan kondisi kami pada saat itu cukup kelelahan, maka kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan, dan ‘sekolah di dalam hutan’ hanya menjadi sebuah cerita dari mulut ke mulut yang tak mampu kami buktikan benar keberadaanya. Sahabat saya, Teh Ika, selalu antusias ketika menyimak cerita perjalanan kami pada saat itu. Hingga saya dan dia merencanakan sesuatu, bertekad untuk mencari sampai ketemu ‘sekolah di dalam hutan’, sebuah sekolah marginal, yang katanya, akses masuk ke desa tempat sekolah tersebut berada  har...