Langsung ke konten utama

Kita dan Budaya Baca-Tulis



Oleh: Lina Astuti (FLP Cabang Karawang)


“Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,
Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya lampunya terang benderang,
kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,”


Hayo, kira-kira siapa yang bisa menjawab pertanyaannya pak Taufiq Ismail dalam puisinya yang berjudul Kupu-kupu Dalam Buku, di negeri mana gerangan aku sekarang? Tempat di mana buku-buku dibaca, di bis, di ruang tunggu rumah sakit, di kereta, di angkot dan tempat-tempat lainnya. Suatu tempat yang toko bukunya ramai orang-orang mengantri membeli, perpustakaan-perpustakaan yang banyak dikunjungi, dan di rumah-rumah mereka memiliki buku-buku untuk dibaca. Di negeri manakah gerangan itu? Apa? Di Indonesia? Hiks..hiks..mimpi kali ya? (loh kok gitu, harusnya kan aamiin ya?)
Yup, memang pada kenyataannya di negeri kita tercinta ini minat dalam membacanya masih kurang banget. Dalam polling yang dilakukan oleh majalah remaja pada salah satu sekolah SMA di Bekasi, tercatat yang suka membaca hanya kurang dari 20% saja, itupun masih ada yang membaca karena terpaksa tuntutan pelajaran.
Fakta yang mencengangkan adalah publikasi dari lembaga survei Internasional Associations for Evaluation of Educational (IAEEA) pada 27 November 2007, mengatakan bahwa minat baca anak-anak Indonesia berada pada urutan terakhir dari 41 negara yang disurvey, itu selevel dengan Negara bagian selatan bersama Selandia Baru dan Afrika Selatan. Waduh!  Kalau gini kapan Negara kita mau maju, coba?

Membaca, sebuah budaya. Benarkah?
Membaca adalah salah satu sarana untuk mendapatkan informasi. Tapi hal tersebut belum sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Kebanyakan dari kita lebih memilih menonton TV atau mendengarkan radio dari pada mencari informasi dari kegiatan membaca. Berbeda sekali dengan Negara lain, Jepang misalnya. Mereka sudah menjadikan kegiatan membaca ini sebagai sebuah budaya. Lihat saja di film-film, orang Jepang cenderung melakukan kegiatan membaca di sela-sela waktu mereka, misalnya di bus, di kereta api, di halte dan tempat-tempat menunggu lainnya. Di Indonesia bagaimana? Masyarakatnya lebih memilih kegiatan lain pada saat menunggu, misalnya mengobrol atau tidur. Sedikit sekali yang melakukan kegiatan membaca.
Dalam sebuah forum diskusi FLP Jawa Barat (17/12/2011), mbak Rahmadiyanti Rusdi, sekjen FLP pusat mengatakan, “Di salah satu Negara di Eropa pernah ada himbauan dilarang membaca di tempat umum oleh pemerintahnya, hal tersebut di karenakan kurangnya komunikasi sosial di kalangan masyarakat. Di tempat umum sekalipun mereka terlalu asik dengan buku-buku yang dibaca, hingga hubungan sosial di antara masyarakat sangatlah kurang. Lain halnya dengan Indonesia, tahu sendiri kan kalau Indonesia terkenal dengan orang-orangnya yang ramah? Mungkin itulah sebabnya jarang ada orang Indonesia yang membaca di tempat umum. Di kereta api misalnya, mereka lebih asik mengobrol, saling sapa, kenalan, kongkow-kongkow, selain kegiatan tersebut mereka lebih memilih tidur. Ini adalah masalah kebiasaan, masalah budaya yang lebay.” Yup, setuju banget! Dua-duanya bisa dibilang lebay. Yang satu berlebihan dalam membaca dan tidak bisa ‘membaca’ kondisi dan situasi (sampai-sampai saling cuek satu sama lain), sedangkan yang satu lagi memegang teguh budaya ramah tamah loh jenawe (loh, kok? Hehe).

Ternyata ada alasan untuk tidak menulis, loh!
            Tahu tidak kalau antara membaca dan menulis itu adalah saudara dekat? Bisa dibilang adek-kakak gitu deh.  Seperti tema yang diangkat oleh FLP Jawa Barat pada acara up grading wilayah Desember lalu, yaitu Menguatkan Tradisi Membaca; Menulis Adalah Langkah Lanjutan Membaca.
            Dalam ajaran Islam, membaca dan menulis sudah menjadi bagian dari islam itu sendiri. Terbukti dalam ayat Al-Qur’an pertama kali yang diwahyukan Allah swt kepada Rasulullah saw adalah, “Iqro bismiiRabbikalladjikholaq.”, bacalah! Dengan menyebut Tuhanmu yang  menciptakan (QS.96:1). Lalu diperkuat dengan sebuah hadits, Rasulullah berkata, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Di sini sudah terbukti bahwa antara membaca dan menulis merupakan dua unsur yang saling bersinergi. “Membaca adalah proses mengisi telaga dalam pikiran kita hingga penuh, yang kemudian akan mengalirkan ide berupa gagasan yang bisa dituliskan.” Begitu ujar kang M Irfan Hidayatullah, mantan ketua FLP pusat. Semakin banyak yang kita baca maka semakin banyak pula yang bisa kita tulis.
Seseorang bisa menulis karena dia telah mempunyai ‘sesuatu’ untuk ditulis, dan sesuatu itu ia dapatkan dari kegiatan ‘membaca’. Maka tidak heran jika apa yang dibaca akan sangat mempengaruhi apa yang dituliskannya kelak. Tapi terkadang kita cenderung tergesa-gesa dalam membaca karena ingin cepat-cepat menuliskannya. Bagaimana jika seorang penulis tidak suka membaca atau kurang membaca? Saya rasa ada alasan untuk pernyataan yang dilontarkan oleh mbak Asma Nadia, bahwa tidak ada alasan untuk tidak menulis. Yaitu merampungkan bacaan hingga selesai!
So, membaca lalu menulis. Itu keten banget tahu!


Komentar

  1. Iya Mb, budaya baca tulis g tau pada ke mana
    huhuhu

    BalasHapus
  2. hohoho..tulisan belum diedit ini, terposting ternyata T.T
    salam mbak Miyo :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Bukan Cinderella: Kadang Cinta Tak Bisa Memilih

Masih inget terakhir baca bukunya Mbak Ifa Avianty yaitu dwilogi Facebook on Love yang berhasil mengaduk-aduk  emosi saya pada saat membacanya. Chapter pertama maupun yang kedua dari buku tersebut sama-sama menghadirkan sekelumit drama rumah tangga dengan segala bumbu-bumbunya. Ditambah dengan gaya penuturan mba Ifa yang berhasil membuat saya jatuh cinta pada tulisannya yang pertama (pertama kali baca tulisan mba Ifa di kumcernya yang berjudul Musim Semi Enggak Lewat Depok).   Nah, kali ini ceritanya saya mau me- review novel Mba Ifa yang judulnya Bukan Cinderella . Novel setebal 215 halaman ini terbitan Noura Books, kalau gak salah dulu namanya penerbit Mizan Media Utama kemudian berganti nama menjadi Noura Books. Buku ini  memberikan catatan rekor bagi pembaca yang agak malas seperti saya, bisa menghatamkan novel ini dalam jangka waktu 3 jam saja.. saking serunya atau emang gak ada kerjaan lain, eh XD (tapi asli novelnya seru :D). ** Bukan Cinderela Apa ...

Sepuluh Muwasofat Tarbiyah

Bismillah... Ahad siang di suatu halaqah, murrabiah saya menyinggung tentang Muwasofat Tarbiyah . Saya sendiri gagal mengingat  apa yang dimaksud oleh murrabiah saya tersebut, padahal di tempat liqo sebelumnya saya pernah menerima materi itu. Duh, dengan menyadari betapa longgarnya ilmu yang mampu saya ikat, semoga duduk melingkar setiap pekan ini  bukan menjadi hal yang tak ada gunanya bagi saya. Jadi teringat kalimat salah satu sahabat Nabi Salallahu ‘alaihi wasalam, Ali bin Abi Thalib. “Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya!” begitu ujarnya. Baiklah, kali ini saya coba berikhtiar dalam belajar. Maka, saya tuliskan materi yang diberikan oleh murrabiah tentang 10 Muwasofat Tarbiyah . Menurut sumber yang saya baca, Muwasofat berasal dari kata wa-sho-fa yang artinya watak atau rupa diri. Sedangkan Tarbiyah secara umum berarti pendidikan. Sedangkan menurut Dr. Ali Abdul Halim Mahmud dalam bukunya yang berjudul Peringkat-Peringkat Tarbiyah Ihwanul Muslimin, menga...

Sekolah di Dalam Hutan

Pencarian Sekolah di Dalam Hutan Siang itu, seusai menggelar aksi penggalangan dana untuk pembangunan masjid Tolikara, Papua, saya dan seorang sahabat meluncur ke tempat tujuan kami selanjutnya. Kami akan mencari ‘sekolah di dalam hutan’. Sebuah pencarian yang sempat gagal pada  perjalanan saya sebelumnya dengan dua orang sahabat yang lain. Saat itu kami tengah mencari lokasi untuk event kegiatan sosial di bidang pendidikan. Namun karena medannya sulit dan kondisi kami pada saat itu cukup kelelahan, maka kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan, dan ‘sekolah di dalam hutan’ hanya menjadi sebuah cerita dari mulut ke mulut yang tak mampu kami buktikan benar keberadaanya. Sahabat saya, Teh Ika, selalu antusias ketika menyimak cerita perjalanan kami pada saat itu. Hingga saya dan dia merencanakan sesuatu, bertekad untuk mencari sampai ketemu ‘sekolah di dalam hutan’, sebuah sekolah marginal, yang katanya, akses masuk ke desa tempat sekolah tersebut berada  har...